Breaking News
Home / Foto Lama / Pasar Malam Gambir Tempoe Doeloe

Pasar Malam Gambir Tempoe Doeloe

m.tempo.co

m.tempo.co

KOTATOEA.COM — Bicara Jakarta tidak terlepas dari Pasar Malam Gambir atau Pasar Gambir. Awalnya, agenda itu dinamakan Koninginnedag atau Hari Ratu karena untuk menghormati dan merayakan penobatan Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus 1898. Kemudian pasar malam ini dibikin setiap tahun yaitu untuk merayakan hari ulang tahun Wilhelmina tiap 31 Agustus.

“Bataviaasch Nieuwsblad” pada edisi  23 September 1921 menuliskan bahwa, “Semalam, Komite Pasar Gambir mengadakan pertemuan yang menginformasikan bahwa laba bersih dari Pasar Gambir sebesar 18.848.38 Gulden. Dari hasil itu, tentu saja, Kota Batavia akan mendapat bagian. Sementara itu selama gelaran Pasar Gambir ini ada 334.985 orang yang berkunjung dan dari jumlah tiket masuk, panitia mendapat 78.358 Gulden. Dari sini ditetapkan pula panitia penyelenggara dibikin permanen,”

Delapan tahun kemudian, 2 September 1929 “De Sumatra Post” menurunkan berita, “Jumlah pengunjung Pasar Gambir pada pagi hari ada 11.385 orang, sedangkan pada sore hari meningkat menjadi 105.849 orang sehingga jumlah total adalah 117.134 orang.”

Di kemudian hari pasar malam ini digelar selama dua pekan diramaikan dengan berbagai tontonan, pertandingan sepak bola, karapan sapi, makanan tradisional, berbagai produk lokal, teknik lokal yang kemudian bersanding dengan produk Eropa serta penemuan-penemuan dalam ilmu pengetahuan Barat. Intinya, pasar malam ini memang ditujukan untuk rakyat, untuk menghibur rakyat.

Dalam situs resmi Pasar Tong Tong (Belanda) disebutkan, tiap tahun desain Pasar Gambir di Batavia selalu berbeda. Menjadikan Koningsplein perpaduan Asia dan Eropa. Pasar malam ini bukanlah pasar malam biasa karena memadukan karnaval, pameran, kerajinan tangan, musisi tradisional, kesenian dan tradisi Indonesia, dengan segala yang berbau Barat atau Eropa. Tentu saja segala yang khas Belanda sangat menonjol ditampilkan di sini.

Sayangnya, kedatangan Jepang tak hanya meluluhlantakkan bangunan bersejarah, menghilangkan begitu banyak arsip tapi juga menghentikan kejayaan Pasar Gambir.

Di Belanda, Pasar Gambir dilanjutkan dengan nama Pasar Malam Tong Tong. Kegiatan ini terus digelar tiap tahun di Malieveld, Den Haag sekitar Mei-Juni. Pasar Malam Tong Tong berisi berbagai nostalgia terlebih bagi warga Belanda yang lahir di Indonesia, pernah tinggal di Indonesia, masih memiliki ikatan dengan Indonesia atau masih menyimpan cinta pada Indonesia.

Sementara itu, Pasar Gambir di Indonesia dihidupkan kembali tahun 1968 di masa Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Ali Sadikin. Namanya berubah menjadi Djakarta Fair (dan berubah lagi menjadi Jakarta Fair hingga Pekan Raya Jakarta) dan digelar pada bulan Juni-Juli sebagai perayaan HUT Jakarta. Lokasi pasar malam ini tak terlalu jauh berbeda dari Pasar Gambir, yaitu Lapangan Monas.

Pengisi acara pada Djakarta Fair atau pun Jakarta Fair masih mengikuti konsep Pasar Gambir, menampilkan produk tradisional, lokal juga hal-hal unik. Intinya meningkatkan pemasaran produksi dalam negeri.

Waktu bertambah, segalanya berubah. Jakarta Fair yang semula menempati lahan tujuh hektar di kawasan Monas dinilai tak lagi mampu menampung peserta pameran dan pengunjung. Tak hanya itu, pasar malam dengan segala yang berbau tradisional dan pesta rakyat lambat laun berubah menjadi ajang pameran modern. Maka pada 1992 perhelatan ini pindah ke Kemayoran dengan lahan seluas 44 hektar.

Jika Pasar Gambir di tahun 1929 dikunjungi sekitar 117 ribu orang selama sepekan maka pergelaran yang sudah berubah menjadi Pekan Raya Jakarta (PRJ) ini pada 2011 didatangi lebih dari empat juta manusia selama 32 hari atau 125 ribu orang per hari.

Rupanya, Gubernur DKI Jakarta kala itu, Jokowi, menginginkan konsep pasar malam rakyat dikembalikan. Ia menegaskan akan mengembalikan PRJ ke tempat asalnya, Koningsplein (kawasan Monas kini) serta memberi kesempatan pada produk lokal dan UKM.

Keroncong Pasar Gambir pun sayup-sayup kembali terdengar…“Pasar Gambir, Kota Betawi… Ai Kota Betawi …Ai indung disayang, sampai di Gambir, Nona…Sampai di Gambir, Nona, membeli pala.”  (Pradaningrum Mijarto)

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*