Breaking News
Home / Historia / Operasi Dwikora Dalam Kenangan

Operasi Dwikora Dalam Kenangan

Mungkin kita sebagai warga negara Indonesia, tidak pernah mendengar bagaimana gerakan yang dinamakan Dwikora pada 1964. Pasukan militer tak resmi Indonesia ini mulai menyerang wilayah di Semenanjung Malaya.  Komando Siaga yang bertugas untuk mengoordinasi kegiatan perang terhadap Malaysia (Operasi Dwikora) ini dibentuk di bulan Mei.

Komando ini kemudian berubah menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Kolaga dipimpin oleh Laksdya Udara Omar Dani sebagai Pangkolaga. Kolaga sendiri terdiri dari tiga Komando, yaitu Komando Tempur Satu (Kopurtu) berkedudukan di Sumatera yang terdiri dari 12 Batalyon TNI-AD, termasuk tiga Batalyon Para dan satu batalyon KKO. Komando ini sasaran operasinya Semenanjung Malaya dan dipimpin oleh Brigjen Kemal Idris sebagai Pangkopur-I.

Komando Tempur Dua (Kopurda) berkedudukan di Bengkayang, Kalimantan Barat dan terdiri dari 13 Batalyon yang berasal dari unsur KKO, AURI, dan RPKAD. Komando ini dipimpin Brigjen Soepardjo sebagai Pangkopur-II. Komando ketiga adalah Komando Armada Siaga yang terdiri dari unsur TNI-AL dan juga KKO. Komando ini dilengkapi dengan Brigade Pendarat dan beroperasi di perbatasan Riau dan Kalimantan Timur.

Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando.

Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service (SAS). Tercatat sekitar 2000 pasukan Indonesia tewas dan 200 pasukan Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur di belantara kalimantan (Majalah Angkasa Edisi 2006).

Jenazah anggota-anggota sukarelawan Dwikora yang gugur saat melakukan operasi penyusupan ke kawasan Pontian, Johor Baru, Semenanjung Malaya ini,  masing-masing dalam posisi terikat pada sebatang kayu, nampak sedang dibaringkan di tanah . Sementara sejumlah personel pasukan elite militer Inggris, Gurkha, sedang menonton jenasah-jenasah tersebut. Kemungkinan besar satuan Gurkha juga yang berhasil menewaskan sukarelawan-sukarelawan asal Indonesia yang sedang menjalankan tugas Dwikora ini.

Sumber foto ini, Life Magazine, tidak menjelaskan secara rinci, tenmpat maupun asal kesatuan dari para sukwan Dwikora yang gugur saat menjalankan tugas negara tersebut, selain hanya menyebut mereka adalah “dead Indonesian terrorist” . Sedang keterangan tempat menyebut “Malaya, Malaysia” sebagai lokasi pengambilan fotonya, yang artinya merujuk kepada semenanjung Malaysia dan bukan Kalimantan Utara, karena apabila Kalimantan Utara yang dimaksud, biasanya yang disebut secara spesifik adalah Sabah atau Serawak.

Dari tanggal publikasi foto ini, yang hanya disebut bulan dan tahunnya, yaitu September 1964, maka kemungkinan besar jenasah diatas adalah jenasah dari personel-personel KKo/ALRI , yang gugur saat sedang melakukan operasi penyusupan ke kawasan Pontian, Johor Baru, Semenanjung Malaya, bulan Agustus 1964. Operasi ini dinamakan “Operasi Pontian” , yang secara khusus digelar dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus 1964 ( Dinas Penerangan Korps Marinir : 60 Tahun Pengabdian Korps Marinir, Jakarta, 2005) .

Misi yang diemban dalam operasi ini adalah untuk melakukan pendampingan serta memberikan pelatihan militer kepada kader-kader (bawah tanah) setempat, dalam hal ini adalah aktivis-aktivis kiri lokal yang sedang melakukan perang gerilya terhadap rezim Malaysia “boneka” Inggris ( Supoduto Citrawijaya : Kompi X di Rimba Siglayan –

Konfrontasi Dengan Malaysia – penerbit buku Kompas/Jakarta, 2005).
Operasi yang melibatkan tiga tim gabungan ( dua tim dari Sukwan AU dan satu tim dari KKo/ALRI ) dengan total jumlah anggota sekitar 100 orang ini, akhirnya mengalami kegagalan dan sebagian besar anggota tim tertawan oleh pasukan Malaysia/Inggris. Sedang tujuh anggota KKo ALRI gugur dalam kontak senjata ytang terjadi pada tanggal 30 Agustus 1964, di kawasan di Gunung Pulai, Johor ( 60 Tahun Pengabdian Korps Marinir, hal 245). Diduga merekalah yang kemudian jenasahnya dipamerkan kepada wartawan dan oleh pihak militer Inggris/Gurkha, diberi predikat sebagai “dead Indonesian terrorist”.

Belum bisa dipastikan , bagaimana dengan keberadaan jenasah-jenasah personel KKo ini (sekiranya mereka benar2 personel KKo dan bukan dari kesatuan/unit militer yang lain) , pasca berakhirnya konfrontasi Indonesia – Malaysia. Kedua buku yang dikutip diatas ( 60 Tahun Pengabdian Korps Marinir & Kompi X di Rimba Siglayan) juga tidak menyebut samasekali perihal “peristirahatan terakhir” dari para Sukwan Dwikora yang gugur ini , apakah dimakamkan dengan cukup layak oleh pihak Malaysia dan kemudian dikembalikan ke Indonesia (pasca konfrontasi), ataukah langsung dikirim ke Indonesia, atau sampai sekarang masih terbaring di bumi Malaysia ?

Memang berbeda dengan operasi-operasi militer berskala besar yang lain, seperti Operasi Trikora dan Seroja ( Timor-Timur) , operasi Dwikora secara politis jauh lebih peka, antara lain karena (terkesan) ada dimensi “kiri” yang menonjol dalam pelaksanaan kampanye Dwikora ini, karena memang ada dukungan kuat dari elemen-elemen kiri di Indonesia terhadap kampanye Dwikora, bahkan beberapa buku sejarah di era Orba menyebut Dwikora tak lain adalah hasil dari provokasi dan “hasutan” PKI.

Hal ini membuat sikap pemerintah di era Orde Baru dan era-era sesudahnya, cenderung ingin mengecilkan serta mendistorsi operasi Dwikora ini, sebagai suatu fakta sejarah. Dengan demikian, tidak mengherankan apabila sikap kurang peduli dan acuh tak acuh – khususnya terhadap mereka yang telah menyumbangkan jiwa dan raganya demi tugas yang dibebankan negara ini – lazim dijumpai. Sampai sekarang ini, saat peristiwanya sendiri sudah berlalu hampir setengah abad lewat. ( Sumber foto : Life Magazine/Larry Burrows/Malaya/September 1964).

TULISAN : JOHNY BUDIYONO

Sumber foto : Life Magazine/Larry Burrows/Malaya/September 1964)

Sumber foto : Life Magazine/Larry Burrows/Malaya/September 1964)

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*